Friday, April 8, 2016

Awal Zaman Modern dan Semangat Filsafat Modern

Filsafat merupakan bentuk pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kehidupan (F. Budi Hardiman:2011:1). Sehingga bisa di katakan bahwa seluruh esensi pemikiran tokoh-tokoh filsafat terlibat dalam kebisingan semangat zaman pada waktu filosof tersebut hidup. Berubah zaman, maka berubahlah bentuk bentuk pemikiran filsafat.
Demikianlah yang terjadi pada filsafat modern. Filsafat modern juga tidak bisa lepas dari kebisingan semangat zaman. Betapapun terlihat murni pemikiran para tokoh filsafat modern, tidak akan pernah bisa lepas dari kebisingan semangat zamannya.

Periode Yang Disebut "Zaman Modern"
Banyak ahli sejarah menyepakati bahwa sekitar tahun 1500 adalah hari kelahiran zaman modern di Eropa(F. Budi Hardiman:2011:2). Meski begitu  Filsafat modern dirintis dalam berbagai tahapan. Mulai dari zaman Renaisans sampai akhir periode modern yaitu Filsafat Eksistensialisme awal. Tahapan awal kemunculan filsafat modern
Diawali gerakan-gerakan kritis terhadap zaman sebelumnya. Diawali zaman Renaisans, tokohnya Machievelli, Giardano Bruno, Francis Bacon. Kemudian tahap Rasionalisme, tokohnya Rene Descartes, Baruch de Spinoza, Leibniz, Blaise Pascal. Selanjutnya tahap Empirisme, tokohnya Thomas Hobbes, John Locke, Goerge Barkeley, David Hume. Kemudian zaman Pencerahan, tokohnya Voltaire, Montesquieu, Rousseau dll. Tahap Idealis, tokohnya Immanuel Kant, Hegel dll. Tahap Positivisme, tokohnya August Comte, J.S Mill dll. Tahap Materialisme, Karl Marx dll. Dan Tahap Eksistensialisme awal, Nietszche.

"Modernitas" bukan hanya merujuk pada perubahan atau perkembangan periode, namun lebih menekankan perubahan bentuk-bentuk kesadaran atau pola-pola berfikir yang sifatnya kebaharuan. Yang mana kesadaran tersebut menghasilkan sesuatu yang baru seperti sains, ilmu teknologi, teknik ekonomi dan lain-lain.
Sebagai sebuah kesadaran modernitas di cirikan oleh 3 hal. Pertama, "Subyektivitas" yaitu di zaman modern manusia menyadari dirinya sebagai subyektum atau dapat diartikan manusia sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Dalam buku F. Budi Hardiman(2011:3) di jelaskan ilustrasi sebagai berikut. Dalam karya sejarawan Swiss, Jacob Burckhardt, dalam bukunya Die Cultur  der Renaissance in Italian (kebudayaan Renaisans di Italia,1859), menjelaskan bagaimana mesyarakat abad pertengehan(sebelum renaisans) lebih mengenal dirinya sebagai ras, rakyat,partai,keluarga, atau singkatnya sebagai masyarakat yang hidup dalam kelompok. Lewat modernisasi yang berupa pembaharuan lewat renaisans masyarakat Italia lebih menyadari dirinya sebagai individu.
Di dalam filsafat kita akan mendengar pernyataan Deskartes yang sangat termasyhur "cogito ergo sum" (saya berfikir maka saya ada). Pernyataan ini adalah formulasi yang dipertahankan bahkan sampai abad ke-20, pernyataan ini mempunyai maksud bahwa manusia(individu) bisa mengetahui kenyataan dengan akal rasionya sendiri, tentu ini berbeda sebelum pembaharuan tepatnya di zaman pra-renaisans yang menganggap manusia bisa mengetahui kenyataan dari wahyu dan mitologi.
Kedua, adalah kritik. Kritik sudah implisit dalam pengertian subyektivitas, dimana dengan subyektivitas yang berada dalam diri individu, rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi pengetahuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang tradisi atau untuk memnghancurkan prasangka-prasangka yang menyesatkan. Dalm zaman Pencerahan Emanuel kant mengatakan "terbangun dari tidur dogmatis", yaitu kemampuan kritis rasio mampu membenaskan diri dari prasangka pemikiran-pemikran tradisional yang bersifat dogmatis.
Ketiga, adalah kemajuan. Subyektifitas dan kritik pada akhirnya mempunyai tujuan akan kemajuan. Yakni kemajuan yang bersifat pembaharuan.

Filsafat Modern sebagai Pemberontak Intelektual
Diatas di sebutkan bahwa pemikiran modern mempunyai 3 ciri yaitu subyektivitas,kritis, dan kemajuan, ini jelas bertolak dari zaman sebelumnya yang disebut-sebut sebagai zaman "tradisional". Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren (berhubungan) dan sistematis yang tampil dalam bentuo metafisika atau ontologi. Filsafat Thomas Aquinas adalah puncak pemikiran di zaman pertengahan ini yang kemudian digantikan dengan zaman awal pembaharuan yaitu Renaisans.
Dengen ini sudah jelas bahwa pemikiran zaman modern dapat dipahami sebagai pemberontakan intelektual terhadap pemikiran abad pertengahan. Dimana pemberontakan intelektual ini  terus menerus menyerang pemimikiran metafafisika tradisional.
Pemberontakan intelektual menghadirkan ambivalensi dalam filsafat modern.  yaitu pertentangan antara yang pro-midernitas dan yang menolak modernitas, ambivalensi tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut. Pertama, kita menganggap mdernitas sebagai disintegrasi intelektual. Dimana kelahiran modernitas itu sebagai anarki yang memecah keutuhan dan ketertiban karena mengkritik pemikiran-pemikiran zaman pertengahan. Bagi para pro-zaman pertengahan yang ingin mempertahankan kebudayaan metafisika tradisional, malah menganggap bahwa modernitas adalah suatu kemrosotan intelektual.
Kedua, bagi yang setuju dengan pembaharuan dengan kata lain pro-modernisasi, pemberontakan ini adalah sebagai emansipasi, sebuah kemajuan berfikir, dari kemandegan dan pendewaan metafisika yang mendukung sistem kekuasaan dan gerjawi tradisional.

(Sumber: F. Budi Hardiman, Pemikiran-pemikiran yang membentuk Dunia Modern, jakarta: 2011, Penerbit Erlangga)

Wednesday, January 20, 2016

Siapa August Comte?

August Comte adalah seorang filsuf dan sekaligus di gadang-gadang sebagai bapak sosiologi yang hidup kisaran tahun 1798-1857. Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah Sosiologi, sebelumya menggunakan istilah fisika sosial. Berubah karena comte berusaha memodelkan fisika sosial dengan "ilmu-ilmu keras" sehingga berubah menjadi sosiologi. Nah dengan sosiologi inilah comte mampu mempercepat datangnya positivisme yang membawa revormasi sosial. Apa itu positivistik akan di jelaskan d bawah.
Meskipun Comte adalah orang petama yang menggunakan istilah Sosiologi, seorang tokoh bernama Eriksson telah menentang pendapat yang menyatakan Comte sebagai “nenek moyang” sosiologi ilmiah modem. Erikson menganggap orang-orang seperti Adam Smith, atau para Moralis Skotlandia, merupakan sumber sebenarnya dari sosiologi modern.
Namun kita tidak akan membahas perdebaatan camte ataukah para moralis sklastis sebagai “nenek moyang” sosiologi ilmiah modern. Lepas dari perdebatan itu comte mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap para teoritisi sosioligis belakangan ini (khususnya Herbert Spencer dan Emile Drlurkheim).
Comte sangat terganggu dengan masyarakat Perancis yang bersikap kritis terhadap para pemikir yang membiakkan baik pencerahan dan revolusi perancis. Karena menurutnya tidaklah penting ada atau tidak nya revolusi, selain alasan itu comte adalah orang yang sejalan dan dipengaruhi oleh para Katolik kontra revolusioner (khusunya Bonald dan Maistre silahkan dicari sendiri). Meski sejalan dan dipengaruhi oleh para Katolik kontra revolusioner, karya comte bisa di pisahkan dari karya mereka karena ada dua alasan. Pertama, dia beranggapan mustahil kembali ke abad pertengahan dimana telah berkembangnya kemajuan-kemajuan di bidang ilmu dan industri, kedua, dia mengembangkan suatu sistem teoritis yang jauh lebih canggih daripada para pendahulunya, yaitu teori "Positivis" atau "Filsafat Positif" yang sekaligus di gunakannya dalam melawan revolusioner dan filsafat pencerahan yang negatif dan destruktif(merusak).
positivis yang di anggap comte sebagai sistem teori yang lebih canggih daripada pendahulunya, dapat dijelaskan dengan hukum tiga tahap(fondasi untuk menjelaskan teori positivis). Menurut comte ada tiga tahap dalam perkembangan intelektual sejarah dunia. Pertama tahap teologis, yang menandai dunia sebelum tahun 1300. Selama periode itu, perkembangan intelektual lebih menekankan kepercayaan bahwa akar segala sesuatu adalah kekuatan-kekutan supranatural dan tokoh-tokoh agamis yang di teladani masyarakat, singkatnya dunia sosial dan fisik dihasilkan oleh tuhan(àgama). Kedua ialah tahap metafisik yang terjadi kira2 1300-1800, tahap ini bisa di sebut tahap transisi dari masyarakat teologis menuju masyarakat positivis dimana rasio juga ikut andil dalam menentukan akar dari segala sesuatu. Tahap ke tiga tahap positivistik pada tahun 1800, di tandai dengan kepercayaan terhadap ilmu, era di mana manusia cenderung membuang sebab-sebab absolut (Tuhan atau alam), dan menggantinya dengan memusatkan pada pengetahuan atau penjelasan secara terperinci tentang dunia sosial maupun fisik. Singkatnya teori evolusioner comte ini adalah teori yang membawa manusia dari teologis ke positivis, karena pada masa teologis dan metafisik adalah penyebab kekacauan sosial yang di sebabkan kekacauan intelektual yang cenderung menggunakan sebab sebab absolut yang tidak memerlukan penjelasan ilmiah, kekacauan sosial ini akan berhenti jika positivistik telah mendapat kendali total, inilah alasan comte mengatakan bahwa tidak penting ada atau tidak revolusi, karena manusia cepat atau lambat akan menuju ke revolusi itu sendiri dengan positivistik.
Dan yang mempercepat kedatangan positifistik adalah sosiologi seperti yang di jelaskan d awal tadi.
Akan tetapi, signifikasi jangka panjang dari teori comte ini di kerdilkan oleh sosiologi Perancis dan ahli waris sejumlah dirinya yaitu Emile Durkheim.
Nah demikian sedikit pengetahuan dari penulis. Penulis memerlukan banyak komentar dan saran untuk memperbaiki tulisan ini.