Filsafat merupakan bentuk pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kehidupan (F. Budi Hardiman:2011:1). Sehingga bisa di katakan bahwa seluruh esensi pemikiran tokoh-tokoh filsafat terlibat dalam kebisingan semangat zaman pada waktu filosof tersebut hidup. Berubah zaman, maka berubahlah bentuk bentuk pemikiran filsafat.
Demikianlah yang terjadi pada filsafat modern. Filsafat modern juga tidak bisa lepas dari kebisingan semangat zaman. Betapapun terlihat murni pemikiran para tokoh filsafat modern, tidak akan pernah bisa lepas dari kebisingan semangat zamannya.
Periode Yang Disebut "Zaman Modern"
Banyak ahli sejarah menyepakati bahwa sekitar tahun 1500 adalah hari kelahiran zaman modern di Eropa(F. Budi Hardiman:2011:2). Meski begitu Filsafat modern dirintis dalam berbagai tahapan. Mulai dari zaman Renaisans sampai akhir periode modern yaitu Filsafat Eksistensialisme awal. Tahapan awal kemunculan filsafat modern
Diawali gerakan-gerakan kritis terhadap zaman sebelumnya. Diawali zaman Renaisans, tokohnya Machievelli, Giardano Bruno, Francis Bacon. Kemudian tahap Rasionalisme, tokohnya Rene Descartes, Baruch de Spinoza, Leibniz, Blaise Pascal. Selanjutnya tahap Empirisme, tokohnya Thomas Hobbes, John Locke, Goerge Barkeley, David Hume. Kemudian zaman Pencerahan, tokohnya Voltaire, Montesquieu, Rousseau dll. Tahap Idealis, tokohnya Immanuel Kant, Hegel dll. Tahap Positivisme, tokohnya August Comte, J.S Mill dll. Tahap Materialisme, Karl Marx dll. Dan Tahap Eksistensialisme awal, Nietszche.
"Modernitas" bukan hanya merujuk pada perubahan atau perkembangan periode, namun lebih menekankan perubahan bentuk-bentuk kesadaran atau pola-pola berfikir yang sifatnya kebaharuan. Yang mana kesadaran tersebut menghasilkan sesuatu yang baru seperti sains, ilmu teknologi, teknik ekonomi dan lain-lain.
Sebagai sebuah kesadaran modernitas di cirikan oleh 3 hal. Pertama, "Subyektivitas" yaitu di zaman modern manusia menyadari dirinya sebagai subyektum atau dapat diartikan manusia sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Dalam buku F. Budi Hardiman(2011:3) di jelaskan ilustrasi sebagai berikut. Dalam karya sejarawan Swiss, Jacob Burckhardt, dalam bukunya Die Cultur der Renaissance in Italian (kebudayaan Renaisans di Italia,1859), menjelaskan bagaimana mesyarakat abad pertengehan(sebelum renaisans) lebih mengenal dirinya sebagai ras, rakyat,partai,keluarga, atau singkatnya sebagai masyarakat yang hidup dalam kelompok. Lewat modernisasi yang berupa pembaharuan lewat renaisans masyarakat Italia lebih menyadari dirinya sebagai individu.
Di dalam filsafat kita akan mendengar pernyataan Deskartes yang sangat termasyhur "cogito ergo sum" (saya berfikir maka saya ada). Pernyataan ini adalah formulasi yang dipertahankan bahkan sampai abad ke-20, pernyataan ini mempunyai maksud bahwa manusia(individu) bisa mengetahui kenyataan dengan akal rasionya sendiri, tentu ini berbeda sebelum pembaharuan tepatnya di zaman pra-renaisans yang menganggap manusia bisa mengetahui kenyataan dari wahyu dan mitologi.
Kedua, adalah kritik. Kritik sudah implisit dalam pengertian subyektivitas, dimana dengan subyektivitas yang berada dalam diri individu, rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi pengetahuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang tradisi atau untuk memnghancurkan prasangka-prasangka yang menyesatkan. Dalm zaman Pencerahan Emanuel kant mengatakan "terbangun dari tidur dogmatis", yaitu kemampuan kritis rasio mampu membenaskan diri dari prasangka pemikiran-pemikran tradisional yang bersifat dogmatis.
Ketiga, adalah kemajuan. Subyektifitas dan kritik pada akhirnya mempunyai tujuan akan kemajuan. Yakni kemajuan yang bersifat pembaharuan.
Filsafat Modern sebagai Pemberontak Intelektual
Diatas di sebutkan bahwa pemikiran modern mempunyai 3 ciri yaitu subyektivitas,kritis, dan kemajuan, ini jelas bertolak dari zaman sebelumnya yang disebut-sebut sebagai zaman "tradisional". Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren (berhubungan) dan sistematis yang tampil dalam bentuo metafisika atau ontologi. Filsafat Thomas Aquinas adalah puncak pemikiran di zaman pertengahan ini yang kemudian digantikan dengan zaman awal pembaharuan yaitu Renaisans.
Dengen ini sudah jelas bahwa pemikiran zaman modern dapat dipahami sebagai pemberontakan intelektual terhadap pemikiran abad pertengahan. Dimana pemberontakan intelektual ini terus menerus menyerang pemimikiran metafafisika tradisional.
Pemberontakan intelektual menghadirkan ambivalensi dalam filsafat modern. yaitu pertentangan antara yang pro-midernitas dan yang menolak modernitas, ambivalensi tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut. Pertama, kita menganggap mdernitas sebagai disintegrasi intelektual. Dimana kelahiran modernitas itu sebagai anarki yang memecah keutuhan dan ketertiban karena mengkritik pemikiran-pemikiran zaman pertengahan. Bagi para pro-zaman pertengahan yang ingin mempertahankan kebudayaan metafisika tradisional, malah menganggap bahwa modernitas adalah suatu kemrosotan intelektual.
Kedua, bagi yang setuju dengan pembaharuan dengan kata lain pro-modernisasi, pemberontakan ini adalah sebagai emansipasi, sebuah kemajuan berfikir, dari kemandegan dan pendewaan metafisika yang mendukung sistem kekuasaan dan gerjawi tradisional.
(Sumber: F. Budi Hardiman, Pemikiran-pemikiran yang membentuk Dunia Modern, jakarta: 2011, Penerbit Erlangga)